Aug 06 2014

Urgensi Bank Maritim untuk Pengembangan Nelayan

Published by at 3:53 pm under Uncategorized

Urgensi Bank Maritim untuk Pengembangan Nelayan

http://jurnalmaritim.com/2014/8/478/urgensi-bank-maritim-untuk-pengembangan-nelayan

BANK MARITIM – Diskusi Panel Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, di Hotel Sultan, Jakarta (11/1). Dukungan pemerintah memfasilitasi nelayan dapat berupa bank maritim. (Foto: JM Foto/Anwar Iqbal) 

Penulis: Anwar Iqbal

Jakarta, JMOL ** Kondisi sektor laut atau maritim Indonesia cukup memprihatinkan. Sebagai Negara kepulauan dengan luas wilayah perairan 70 persen, sektor maritim tidak banyak tersentuh oleh kebijakan negara dalam pembangunan ekonomi.

“90 persen penduduk Indonesia berada di dekat laut. Tapi kebijakan negara tidak banyak yang mendukung sektor kelautan. Kondisi nelayan dan penduduk pesisir kita saat ini sangat memprihatinkan,” ujar Dr Alan F Koropitan dalam Diskusi Panel bertema ‘Mengungkap Budaya Luhur Nusantara Menuju Peradaban Maritim Indonesia’ yang diselenggarakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, di Hotel Sultan, Jakarta (11/1).

Alan memaparkan keterkaitan aktivitas manusia dengan lingkungan. Ia mengambil studi kasus Laut Jawa yang tingkat pencemarannya tinggi akibat pembuangan sungai-sungai di selatan Kalimantan.

“Respons Laut Jawa terhadap masukan beban pencemaran ini terlihat signifikan di pesisir Selatan Kalimantan, Teluk Jakarta, perairan Semarang, dan Selat Madura. Daerah-daerah ini indeks kerentanannya sangat tinggi akibat dampak pencemaran,” katanya.

Alan juga menyorot tidak adanya dukungan pemerintah dalam memfasilitasi para nelayan untuk mengembangkan diri. Ia menyarankan perlu adanya bank maritim yang dapat mendukung operasional para nelayan dan aktivitas kemaritiman lainnya.

“Saat ini, nelayan sangat tidak bankable. Semestinya perlu ada regulasi yang dapat mengakomodasi hal tersebut. Di Jerman misalnya, ada bank pertanian yang dikhususkan bagi para petani,” ungkap Alan.

Pemateri lain, Dedi Supriadi Adhori, dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, memaparkan bahwa kondisi pengelolaan perikanan di Indonesia sangat memprihatinkan. Cirinya, gejala tangkap lebih yang telah melanda hampir semua wilayah pengolahan, kemiskinan nelayan yang akut, dan berbagai macam kerentanan lainnya.

“Praktik penangkapan tradisional banyak ditinggalkan. Ini menjadi gejala di banyak tempat. Praktik yang berkembang saat ini telah berubah ke elite capture, yakni pemanfaatan penguasaan wilayah laut untuk kepentingan politik dan ekonomi para elite dengan mengorbankan kepentingan umum dan kelestarian sumber daya,” paparnya.

Sementara itu, Dr Sonny Keraf, Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup dan pakar Filsafat, melihat dunia maritim dari kacamata filsafat. Ia menjelaskan bahwa penyebab semua kemunduran sektor maritim di Indonesia adalah karena masih dominannya paradigma kontinental dalam arah pembangunan negara.

“Selama paradigma kontinental masih mendominasi, peradaban maritim akan Sulit untuk diwujudkan,” jelasnya.

Sonny menjelaskan, sejatinya paradigma kontinental berasal dari filsafat Barat yang lebih berciri individualistis dan ekonomi bercorak kapitalis liberal.

Sonny mengajak untuk menghidupkan kembali paradigma maritim yang lebih berciri komunal dan menyatu dengan alam.

“Ke depannya kita harus menghidupkan kembali apa yang menjadi sesungguhnya peradaban kita, yaitu peradaban maritim yang bercorak komunal dan menyatu dengan alam. Saat ini budaya tersebut sudah hampir hilang, karena mulai tenggelam oleh filsafat kontinental yang bersumber pada paradigma Barat yang lebih menekankan pada kepemilikan individu,” pungkasnya.

Editor: Arif Giyanto

No responses yet

Comments are closed at this time.

Trackback URI |