Aug 06 2014

Restorasi Maritim ala Jokowi Solusi yang Relevan

Published by at 4:02 pm under Uncategorized

Restorasi Maritim ala Jokowi Solusi yang Relevan
Kamis, 19 Juni 2014 | 15:16

http://www.investor.co.id/agribusiness/restorasi-maritim-ala-jokowi-solusi-yang-relevan/87565

Jokowi tampak berbincang dengan pedagang sayuran Devina Jigwa‎ (43) di Pasar Baru Prahara Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (5/6) pagi. Jokowi pun membeli patatas dari Mama Devina. Sedangkan Mama Devina dgn spontanitas mengisi petatas dalam noken (tas anyaman Papua) dan memberikannya kepada Jokowi. (sumber: Suara Pembaruan/Roberth Isidorus Vanwi)Jokowi tampak berbincang dengan pedagang sayuran Devina Jigwa‎ (43) di Pasar Baru Prahara Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (5/6) pagi. Jokowi pun membeli patatas dari Mama Devina. Sedangkan Mama Devina dgn spontanitas mengisi petatas dalam noken (tas anyaman Papua) dan memberikannya kepada Jokowi. (sumber: Suara Pembaruan/Roberth Isidorus Vanwi)

JAKARTA– Restorasi Maritim yang ditawarkan Calon Presiden (Capres) Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi dinilai merupakan solusi yang relevan bagi persoalan maritim saat ini. Sektor perikanan laut sebagai salah satu komponen dalam aktivitas maritim memang memerlukan terobosan.

Direktur Pusat Studi Oseanografi dan Teknologi Kelautan Universitas Surya, Alan F Koropitan mengatakan, ada dua kata kunci dalam Restorasi Maritim ala Jokowi yang sangat krusial bagi pembangunan kelautan nasional yaitu Tol Laut dan Bank Agromaritim.

“Tol Laut merupakan ide yan baik dalam menjawab tantangan konektivitas negara kepulauan yang diharapkan mampu menjawab persoalan mahalnya biaya logistik serta disparitas ekonomi antar pulau. Sementara Bank Agromaritim akan mampu memberikan kredit kepada petani dan nelayan dengan suku bunga rendah,” ujar Alan di Jakarta, Kamis (19/6).

Alan mengatakan konektivitas merupakan persoalan mendasar bagi pembangunan suatu bangsa. Ia mencontohkan Amerika Serikat ketika awal-awal kemerdekaan, mereka menekankan pada pembangunan infrastruktur untuk transportasi baik jalan raya, sungai-sungai atau kanal-kanal.

“Laut adalah penghubung antarpulau, sehingga ide Tol Laut patut diapresiasi serta didukung untuk konektivitas laut Indonesia,” ujar dia.

Alan menjelaskan persoalan terbesar nelayan Indonesia dalam hal produksi perikanan tangkap adalah sulitnya mendapatkan modal. Ia mengatakan Indonesia perlu belajar dari Prancis yang mendirikan satu bank yang khusus untuk menyalurkan kredit dalam sektor pertanian.

Petani dan nelayan di sana mendapatkan kredit dengan suku bunga rendah untuk membeli alat-alat pertanian dan kapal nelayan dengan waktu pengembalian 10-20 tahun. “Kredit ini wajib diproteksi dengan asuransi. Baik asuransi pembiayaan itu sendiri maupun asuransi jiwa. Sehingga terlindungi ketika ada badai atau cuaca ekstrim,” ujar Alan.

Alan mengatakan jika Indonesia pernah memiliki BRI dengan progam SIMPEDES yang hadir di seluruh pelosok tanah air dan desa-desa, sangat mungkin Bank Agromaritim bisa terwujud. “Ini bisa saja penjelmaan dari BRI yang sudah sangat siap dengan fasilitas satelit serta adanya cabang-cabang di desa-desa pesisir,” ujar dia.

Bank Agromaritim diharapkan mampu menjawab bukan hanya permodalan nelayan tangkap tetapi juga pembudidaya di laut serta petani. (C-07)

No responses yet

Comments are closed at this time.

Trackback URI |