Aug 06 2014

Prioritaskan Sektor Kelautan

Published by at 3:35 pm under Uncategorized

Tata Kelola Pemerintahan/Manajerial Sumber Daya Kelautan Banyak yang Salah
Prioritaskan Sektor Kelautan

http://www.koran-jakarta.com/?16491-prioritaskan%20sektor%20kelautan

JAKARTA – Sektor kelautan harus menjadi prioritas program ekonomi pemerintahan mendatang. Potensi kelautan Indonesia sangat besar karena tiga perempat wilayahnya adalah lautan.

Pengamat kelautan yang juga guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Rokhmin Dahuri, mengatakan dilihat secara makro-ekonomi, pertumbuhan perekonomian Indonesia selama 10 tahun terakhir sangat signifikan. Namun, jika melihat secara detail, problem Indonesia terletak pada sektor riil atau dalam kehidupan sehari-hari rakyat yang pencapaian kesejahteraan ekonominya masih jauh dari negara lain atau masih di urutan kelima di ASEAN. Padahal Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang sangat besar, dan itu tidak dimiliki negara lain.

Menurut dia, sektor kelautan merupakan salah satu modal dasar dan besar bagi bangsa Indonesia, dan masih dapat dimaksimalkan. Sayangnya, selama ini, modal dasar itu belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendongkrak perekonomian rakyat.

Minimnya pencapaian di sektor ini, kata dia, menunjukkan adanya persoalan kebangsaan, di antaranya pada masalahleadership (kepemimpinan), etos kerja sebagai bangsa, serta konsep pembangunan yang salah.

“Fakta secara fisik, wilayah laut kita sangat luas, namun konsep pembangunannya berpola darat, di mana pembangunan industri nonmaritim lebih dominan ketimbang pembangunan infrastrukur kelautan. Ini sangatlah ironi,” kata Rokhmin pada acara diskusi dialog kebangsaan “Kelautan Pasca Pilpres” di Jakarta, Kamis (17/7) malam.

Menurut mantan menteri kelautan dan perikanan era Gus Dur itu, selama sepuluh tahun terakhir, tidak ada korelasi positif antara peningkatan anggaran APBN dan kesejahteraan nelayan serta kedaulatan nelayan.

Director of Center for Oceanography and Marine Technology (COMT), Alan F Koropitan, menyebutkan saat kemerdekaan, luas laut kita hanya 100.000 km persegi, namun sejak Deklarasi Juanda, luas laut kita telah menjadi 5 juta km persegi. Sayangnya, jumlah itu ternyata tidak berpararel dengan ketertarikan petani untuk bekerja pada sektor kelautan. Dari total 31 juta petani, hanya 6 juta yang bekerja di sektor kelautan. Ini berarti wilayah laut kita tidak dikelola dengan benar.

Menurut dia, ketidakjelasan tata kelola disebabkan data yang tidak akurat yang disebabkan oleh minimnya riset sehingga salah satu caranya ialah memaksimalkan riset, baik dalam hal pendanaan maupun infrastruktur yang digunakan, seperti kapal dan teknologi yang digunakan. “Ini semua harus dibereskan oleh pemerintahan yang baru,” katanya.

 

Nelayan Terancam

Sementara itu, Ketua Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Riza Damanik, mengakui bahwa masalah sektor kelautan di Tanah Air sangatlah complicated yang mengakibatkan banyak nelayan, khususnya nelayan tradisional, tidak produktif lagi dan keberlangsungan hidupnya terancam. Persoalan itu kian parah setelah sumber daya laut nasional tidak seproduktif luas wilayah lautnya. “Ini menunjukkan selama ini banyak yang salah dalam manajerial sumber daya kelautan kita,” ungkapnya.

Dia menduga persoalan tersebut mengindikasikan tersanderanya pemerintah oleh kepentingan politik praktis dan mendorong kebergantungan rakyat pada swasta asing.

Di samping tersandera oleh politik praktis, tak dimungkiri, lemahnya karakter kepemimpinan menjadi biang dari semuanya ini. Akibatnya, sektoralisme pengelolahan sumber daya kelautan masih kuat.

“Dua persoalan itu akhirnya membawa nelayan pada ketakberdayaan. Partisipasi organisasi nelayan, petambak, dan masyarakat pesisir pada umumnya termarjinalkan dalam penyusunan kebijakan publik sehingga ancaman kemiskinan terhadap nelayan makin nyata,” paparnya.

Saat ini, kata dia, sekitar 90 persen dari 2,8 juta nelayan kecil Indonesia hanya membawa pulang rata-rata 2 kg ikan per hari. Berdasarkan perhitungan, jika para nelayan berhasil menjual seluruh hasil tangkapan ikan tersebut ke pasar, penghasilan rata-rata nelayan hanya sekitar 20.000 hingga 30.000 rupiah setiap usai melaut.

“Minimnya penghasilan para nelayan tidak disebabkan sedikitnya jumlah ikan di laut, namun karena terbatasnya tangkapan ikan nelayan kecil,” katanya. ers/E-3

No responses yet

Comments are closed at this time.

Trackback URI |