Mar 25 2010

PERIKANAN NASIONAL: Masih soal Isu Berkelanjutan…

Published by at 2:46 pm under Uncategorized

PERIKANAN NASIONAL
Masih soal Isu Berkelanjutan…

Harian Kompas, 15 Maret 2010 | 03:03 WIB

Oleh ALAN KOROPITAN

”Tingkah laku manusia saat ini seharusnya didasari pada pengetahuan tentang apa yang akan terjadi pada kemudian hari!” Ini diungkapkan oleh Prof Sumi dari The University of Tokyo dalam simposium pada 8-9 Maret 2010 di Bali.

Simposium itu digelar oleh Center for Remote Sensing and Ocean Science, Universitas Udayana, bekerja sama dengan Lembaga Antariksa Jepang (JAXA). Konteks yang dia maksud adalah isu ”berkelanjutan”.

Isu ini sudah mulai populer pada era 1970-an, dan akhirnya diakui PBB pada Juni 1992 di Rio de Janeiro melalui kegiatan Konferensi Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCED). Inilah yang menjadi isu sentral dalam pengelolaan lingkungan, termasuk wilayah pesisir dan bidang perikanan.

Dengan berjalannya waktu, ”berkelanjutan” perlu mempertimbangkan dampak perubahan iklim, khususnya pasca-Protokol Kyoto. Ini yang mendasari kenapa Prof Sumi melontarkan kalimat tersebut. Prinsipnya, kita perlu membangun suatu tatanan masyarakat yang sadar akan ancaman dampak perubahan iklim pada masa mendatang untuk menjamin sumber daya lingkungan berkelanjutan.

Dampak bagi perikanan

Salah satu gas rumah kaca penting, dalam kaitan dengan pemanasan global, adalah gas CO2 di atmosfer. Laporan Global Carbon Project edisi 2008 menyebutkan, CO2 di atmosfer telah mencapai level 385 ppm (bagian per juta/parts per million). Pada era praindustri berkisar 280 ppm. Kontribusi emisi CO2 dari deforestasi dan industri mencapai 9,1 PgC per tahun pada 2008 (1 Pg > 10 pangkat 15 gram). Fraksi CO2 yang menetap di atmosfer sekitar 45 persen dari total emisi tersebut, sedangkan sisanya diserap daratan (tumbuhan) dan lautan.

Namun, sejumlah studi menekankan, tingkat efisiensi penyerapan oleh daratan dan lautan telah menurun. Jadi, fraksi CO2 di atmosfer cenderung naik. Di lain pihak, studi Knor baru-baru ini (Desember, 2009) menyimpulkan, tidak ada peningkatan fraksi CO2 di atmosfer dalam 150 tahun terakhir. Ke mana transpor atau transformasi gas CO2 tersebut? Masih menjadi pertanyaan besar saat ini.

Terlepas dari persoalan bujet CO2 yang belum terjawab, dampak pemanasan global telah membawa perubahan terhadap iklim dan laut. Konsekuensinya adalah peningkatan suhu permukaan dan penguatan stratifikasi suhu laut. Perubahan lingkungan laut tentu berdampak pada produktivitas perikanan.

Yonvitner pada Kompas (8/3) membahas laporan Cheung dkk (2009) tentang skenario kenaikan level CO2 di atmosfer dengan peranan CO2 di laut dalam proses fotosintesis fitoplankton. Ini memang dimungkinkan mengingat fitoplankton adalah produser dalam jaringan rantai makanan.

Namun, interpretasi skenario kenaikan level CO2 di atmosfer adalah dalam konteks pemanasan global, yang akan memicu berpindahnya ikan-ikan perairan tropis ke subtropis.

Cheung menyimpulkan, potensi hasil tangkapan ikan di Indonesia akan menurun sampai sekitar 20 persen pada 2100. Dalam skenario lanjutan, Cheung juga menyimpulkan, walaupun level CO2 bisa dipertahankan pada level seperti tahun 2000 (seandainya pertemuan Kopenhagen tahun lalu berhasil), Indonesia pun masih berpotensi kehilangan hasil tangkapan ikan sekitar 5 persen pada 2100. Di lain pihak, lokasi-lokasi seperti di Norwegia, Alaska, Greenland dan Iceland malah berpotensi mengalami peningkatan hasil tangkapan ikan.

Pengelolaan berkelanjutan

Dalam simposium di Bali tersebut, permasalahan dalam pendugaan stok ikan di Indonesia sempat dibahas oleh penulis bersama kolega dari IPB, Prof Bonar Pasaribu dan Dr Jonson L Gaol.

Inti permasalahan antara lain kelemahan data catch per unit effort, termasuk data pendaratan hasil tangkapan di pelabuhan, asumsi-asumsi yang banyak dalam analisis produksi surplus sehingga sulit dipenuhi, dan penerapan analisis statistik terhadap spesies tertentu yang digeneralisasi ke multispesies.

Solusi yang ditawarkan adalah riset yang fokus dan terintegrasi, di mana peranan riset lingkungan laut dan kaitannya dengan biologi perikanan sangat penting dalam pendugaan stok ikan. Kegiatan riset itu dapat terbagi dalam lima kelompok utama, yaitu dinamika iklim, dinamika jaringan rantai makanan, dinamika biogeokimiawi, pemodelan, serta prediksi dan aktivitas manusia. Kelima topik ini saling berinteraksi.

Sebagai contoh, informasi proses biogeokimia, dinamika rantai makanan, dan data tangkapan dapat dikembangkan dalam suatu model ikan sehingga estimasi stok ikan lebih akurat. Demikian halnya prediksi perubahan jalur migrasi akibat pemanasan global dan respons larva ikan terhadap perubahan lingkungan akan membantu antisipasi pada kemudian hari.

Demikian pula halnya pengaruh variabilitas iklim (seperti El Nino) yang dapat memicu kelimpahan ikan yang ekstrem. Hal ini perlu diantisipasi sedini mungkin.

Kanada adalah salah satu negara yang menerapkan konsep ini dengan baik sehingga amat membantu dalam menentukan jumlah stok ikan dan kapasitas maksimum yang boleh ditangkap. Konsep ini diperkenalkan oleh Global Ocean Ecosystem Dynamic, salah satu proyek inti dari International Geosphere-Biosphere Programme, dan diacu banyak negara penggiat perikanan laut, kecuali Indonesia.

Akhirnya, keakuratan informasi stok ikan memiliki nilai strategis dalam pengelolaan perikanan nasional berkelanjutan, termasuk kegiatan pemanfaatan (penangkapan ikan), pengontrolan (illegal fishing), perbaikan lingkungan, dan strategi adaptasi yang tepat dalam perubahan iklim.

ALAN KOROPITAN Dosen pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.