Mar 25 2010

Laut Indonesia, Penyerap atau Pelepas Karbon

Published by at 2:35 pm under Uncategorized

DARI KONFERENSI KOPENHAGEN
Laut Indonesia, Penyerap atau Pelepas Karbon

Koran Tempo, 8 Desember 2009
Hasil riset di dunia dan Laut Jawa mengungkap bahwa laut tidak bisa diandalkan dalam perang melawan perubahan iklim. Masih penasaran.

DRAMAGA – Cuaca di luar hujan deras sekali. Di dalam, embusan mesin-mesin penyejuk udara menambah dingin udara Jumat siang-sore lalu di gedung Marine Center, Kompleks Institut Pertanian Bogor. Tapi Alan F. Koropitan seperti tak merasakannya.

Bukan, bukan karena ia selama hampir lima tahun belakangan terbiasa oleh suhu yang lebih rendah di Hokkaido, Jepang, ataupun Minnesota, Amerika Serikat, melainkan memang dosen dan peneliti di laboratorium oseanografi itu sedang serius sekali. Topik siklus biogeokimia laut yang ia jelaskan cukup “panas” untuk menghangatkan ruang rapat kosong yang kami tumpangi siang hingga jelang sore itu.

Menurut Alan, tidak banyak peneliti lokal yang mendalami soal siklus itu. Pun dengan peralatan-peralatan pengukurannya yang standar, tidak ada di Indonesia. Itu sebabnya, ia menduga, banyak yang keliru memukul rata peran lautan yang bisa menyerap dan mengurangi konsentrasi gas karbon dioksida dari atmosfer–sebuah peran yang sangat dibutuhkan di era perang melawan perubahan iklim dan berpotensi laku dijual dalam skema perdagangan karbon dunia.

“Secara global, ya. Ada neto fluks C02 sebesar 1,3 pentagram (10^15), yang mengarah dari atmosfer ke laut setiap tahunnya. Tapi, khusus untuk perairan tropis, seperti yang dimiliki Indonesia, kecenderungannya adalah melepas karbon,” ucapnya.

Alan mengutip data satelit dan hasil penelitian lapangan yang sudah memperhitungkan faktor solubility pump maupun biological pump, yang dilakukan Taro Takahashi, pakar geokimia laut di Observatorium Bumi di University of Columbia, Amerika Serikat. Faktor yang pertama dihitung menggunakan selisih tekanan parsial CO2 di udara dan air laut, sedangkan faktor kedua memperhitungkan proses respirasi fitoplankton, rantai makanan, dekomposisi, sampai proses upwelling dan larutnya karbon anorganik.

Dalam peta fluks CO2 rata-rata tahunan di lautan dunia yang dirilis 2002 itu, Taro memang tidak mendapat data dari perairan Indonesia. Dalam petanya itu, perairan Indonesia dibuatnya putih saja, tidak ada gradasi warna. Namun, karena faktor solubility pump yang lebih besar dan faktor itu sangat bergantung pada temperatur, Alan yakin laut Indonesia memiliki kecenderungan sama seperti perairan tropis lainnya.

Terlebih lagi Alan sudah mengukur sendiri. Lebih dari setahun lalu ia melakukan riset di Laut Jawa dalam studi doktornya di Hokkaido University. Alan mengumpulkan data-data, seperti pasokan nutrisi dan karbon organik yang dibawa sungai-sungai setempat ke Laut Jawa untuk dimasukkan ke sistem permodelan karbonat laut rumusan terbaru OCMIP (Ocean Carbon-Cycle Model Intercomparison Project), yang sudah sampai fase ketiga.

Hasilnya, laut di utara Pulau Jawa dan selatan Pulau Kalimantan itu secara neto merilis karbon ke atmosfer sebesar 30×10^12 sampai 60×10^12 gram karbon per tahun. Angka itu memang masih mungkin dikurangi oleh proses ekspor material dari Laut Jawa yang dangkal ke sebelah timur yang lebih dalam (efek continental shelf pump yang diungkap Alan dalam studi lanjutan di Minnesota University), tapi tetap saja pasokan karbon organik yang didapatnya dari sungai-sungai di Jawa dan Kalimantan tergolong paling besar di dunia.

“Jadi, sudah tropis, laut di Indonesia juga mendapat pasokan karbon yang besar dari sungai-sungainya,” ujar Alan.

Siang-sore itu Alan memaparkan seluruh datanya–data yang sama, yang sehari sebelumnya ditunjukkan dia di Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Badan di Departemen Kelautan dan Perikanan ini adalah titik vokal di sektor kelautan dari delegasi Indonesia, yang hari ini sudah mulai berunding dalam Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark.

Alan menyimpulkan bahwa tidak seharusnya delegasi Indonesia “menjual” jasa lautan Indonesia dalam skema perdagangan karbon. Alih-alih menguntungkan, upaya itu bisa berbalik menjadi senjata makan tuan. “Statement-statement mestinya dibuat berdasarkan riset.”

Sebagai alternatif, peneliti di bidang pemodelan biogeokimia dan hidrodinamika laut itu mengusulkan agar laut diperjuangkan justru sebagai korban dari dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Fungsi ekologisnya yang terkoyak, baik terhadap keanekaragaman jenis-jenis ikan maupun kelestarian populasi terumbu karang, harus mendapat kompensasi.

Healthy ocean, itu yang terpenting, bukan laut sebagai carbon sink,” ujarnya.

Edvin Aldrian, yang menjadi ketua tim perunding delegasi Indonesia di Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice dalam Konferensi di Kopenhagen, mengaku tahu riset dan hasilnya yang dipaparkan Alan. Tapi Edvin menyatakan masih menyimpan harapan bahwa laut tropis di Indonesia bisa berperan anomali.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika itu menunjuk beberapa karakter, di antaranya biota, seperti bakau dan padang lamun, yang masih cukup kaya di pesisir. Karakter unik lainnya adalah adanya arus lintas yang membantu mengalirkan kejenuhan karbon di laut Indonesia menuju Samudra Hindia dan pendinginan laut karena proses adveksi lewat fenomena El Nino.

Proses adveksi, Edvin menjelaskan, berlawanan dengan upwelling yang membawa implikasi negatif pada penyerapan karbon karena proses aliran vertikalnya yang membawa karbon anorganik dari laut dalam. Gejala arus adveksi, dia menyebutkan, akan menjadi pendingin dan tidak ada pengangkatan karbon dari laut dalam.

Pokoknya, Edvin menekankan, data wilayah laut Indonesia masih marginal, dan semua, termasuk titik vokal di Departemen Kelautan dan Perikanan, masih menunggu hasil pengukuran karbon di laut Indonesia. Itu artinya, “Secara scientific masih ada harapan laut Indonesia sebagai penyerap karbon,” tulis Edvin dalam surat elektroniknya dari Kopenhagen kemarin. WURAGIL

Upwelling dan Variabilitas di Pesisir

Proceedings of the National Academy of Sciences, jurnal resmi milik Akademi Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat, dua tahun lalu pernah memuat hasil penelitian yang membanding-bandingkan fraksi emisi CO2 yang tinggal di atmosfer, vegetasi atau hutan, dan lautan. Diungkapkan bahwa fraksi emisi CO2 yang terkumpul di atmosfer dan menjadi gas rumah kaca dari tahun ke tahun semakin besar. Ini bisa dipahami karena emisi juga semakin besar.

Fraksi yang diserap oleh hutan cenderung tetap dan bisa bergerak menanjak atau sebaliknya, bergantung pada upaya penanaman kembali hutan yang rusak. Semakin banyak hutan yang terawat tentu semakin banyak C02 yang bisa diserapnya.

Nah, di laut grafiknya justru kentara menurun. Alan menjelaskan, itu karena kemampuan laut sebagai penyerap karbon semakin melorot. Para ahli kelautan dunia, Alan menambahkan, saat ini banyak yang sedang mencermati lautan di lintang selatan. Perairan di selatan selama ini berperan menyerap paling banyak CO2 dari atmosfer di antara perairan di utara.

Tapi pemanasan global dan lubang ozon yang tercipta di atasnya membuat laut di selatan itu semakin hangat. Tekanan udara meningkat, arah angin pun semakin cepat. Dampaknya adalah upwelling dari siklus lautan global yang terjadi di sana bisa semakin mudah mengangkat karbon anorganik dari dasar dan membuatnya terlepas kembali ke atmosfer.

“Semua ahli di dunia sedang memikirkan bahayanya apabila fungsi penyerap karbon di laut sebelah selatan ini sampai terganggu,” kata Alan sambil menambahkan, indikasi laut global yang berubah sudah ada. “Cuma di sini (Indonesia) yang masih memikirkan laut tropis.”

Meski begitu, Alan sependapat dengan Edvin bahwa penelitian tetap harus dilakukan untuk seluruh laut Indonesia. Tapi itu dalam konteks perairan pesisir yang memang belum disepakati apakah penyerap atau pelepas karbon. Hasil hitungan dan pemodelan yang sudah dilakukannya untuk Laut Jawa, misalnya, tidak bisa diesktrapolasi untuk Laut Flores yang dalam atau Arafura yang sama-sama dangkal tapi dengan pasokan air sungai dari Papua.

“Perhitungan budget karbon laut Indonesia perlu dibagi sesuai karakteristik lautnya berdasarkan provinsi,” katanya.

Upwelling juga tidak selalu berarti melepas karbon untuk kasus perairan pesisir. Arus konveksi yang terjadi di Cile memang membuat perairan di sana menjadi carbon source, tapi tidak di Oregon, Amerika Serikat, yang justru sebagai carbon sink. “Kita tidak tahu bagaimana dengan upwelling yang juga terjadi di Selat Makassar, Laut Banda, dan di selatan Jawa,” kata Alan mencontohkan.

No responses yet

Comments are closed at this time.

Trackback URI |